Salam Pembuka

Assalamu'alaikum Wr. Wb. Selamat datang di Blognya IMM UNESA LIDAH..... "Billahi Fii Sabili Al Haq Fastabiqul Khoirot"

Senin, 26 September 2011

Sinopsis Novel "Di Bawah Lindungan Ka'bah" Karya HAMKA


Haji Abdul Malik Karim Amrullah yang kerab dipanggil Buya HAMKA merupakan seorang penulis sekaligus seorang Ulama besar dari Muhammadiyah. Novel Di Bawah Lindungan Ka'bah merupakan salah satu karyanya yang sangat luar biasa, bahkan telah difilmkan hingga 2 kali oleh tim produksi yang berbeda, berikut ini seklumit sinopsinya :
Berawal dari kisah tokoh Hamid yang tinggal bersama Ibunya di sebuah rumah yang kecil. Hamid ditinggal mati oleh Ayahnya dalam keadaan yang sangat melarat sejak ia baru berumur 4 tahun. Karena kondisi kemiskinan yang mereka alami sehingga hamid pun berinisiatif untuk membantu ibunya mencari penghidupan sehari-hari dengan menjajakan kue-kue buatan ibunya.
            Ibunya merasa kasihan dengan Hamid karena anak seusia dia seharusnya bisa sekolah, tapi keadaanlah yang tidak memungkinkan. Beruntunglah ada saudagar kaya yang mau menyekolahkan Hamid dari HIS sampai MULO dan setelah itu ditinggikan lagi keilmuan Hamid ke Sekolah Agama. Dialah Engku Haji Ja’far, sorang saudagar kaya raya yang baik hati. Haji Ja’far memiliki istri yang baik budi pula yang bernama Mak Asiah yang kemudian menjadi sahabat karib Ibunya Hamid.
Haji Ja’far dan Mak Asiah memiliki anak perempuan yang bernama Zainab, dialah anak satu-satunya, dan selalu disayangi oleh Haji Ja’far dan Mak Asiah. Semasa sekolah Zainab selalu dilindungi oleh Hamid, mereka berdua adalah sahabat karib, dan sudah saling menganggap kakak beradik sendiri. Kebahagiaan yang semula hanya mimpi bagi Hamid dan Ibunya, kini telah menjadi sebuah hal yang nyata semenjak kehadiran Haji Ja’far dan keluarganya dalam kehidupan Hamid dan Ibunya.
Namun ternyata takdir berkata lain, Haji Ja’far meninggal, dan hal itu menjadikan jarak antara Hamid kepada Mak Asiah dan Zainab menjadi sedikit renggang. Tidak lama kemudian Ibu Hamid pun sakit-sakitan dan akhirnya meninggal.
Hamid yang ternyata telah lama menyembunyikan perasaan cintanya kepada Zainab terpaksa untuk memendam perasaannya itu, karena dia merasa dirinya tidak pantas untuk seorang Zainab, wanita terhormat dari keluarga ningrat.
Suatu ketika Mak Asiah meminta Hamid untuk membujuk Zainab agar cepat mau untuk dinikahkan dengan kemenakan Haji Ja’far yang kini masih bersekolah di Jawa. Hamid merasa bingung, disisi lain dia mencintai Zainab, namun disisi lain dia tahu bahwa cintanya itu mustahil dan dia harus menolong Mak Asiah untuk membujuk Zainab agar mau untuk segera menikah. Akhirnya Hamidpun membujuk Zainab agar mau menikah dengan kemenakannya Haji Ja’far itu, namun Zainab tidak mau menikah.
Hamid memutuskan untuk pergi meninggalkan kampung halamannya itu, dia berkelana ke Medan, Singapura, dan akhirnya sampai ke Mekkah. Di Mekkah ini dia membawa luka hatinya yang mendalam karena cintanya itu yang tak berpengharapan. Sampai pada akhirnya ia bertemu dengan Saleh, seorang sahabat semasa pendidikannya di sekolah agama. Saleh ini ternyata adalah seorang suami dari Rosna yang tidak lain ialah sahabat karib Zainab, kemudian terungkaplah pula bahwa Zainab juga telah lama mencintai Hamid lewat cerita yang dibawa Saleh dari cerita Rosna yang selalu menjadi tempat pelipur lara bagi Zainab. Dari cerita itu tahulah Hamid, bahwa Zainab tidak pernah menikah dengan lelaki manapun, dan dia selalu menunggu kehadiran Hamid meskipun dalam kondisi sakit pun.
Kebahagiaan pun mulai sedikit demi sedikit menyelimuti Hamid, apalagi setelah datangnya surat dari Zainab yang tahu bahwa Hamid sedang berada di Mekkah atas informasi yang dikirim oleh Saleh kepada Istrinya melalui surat. Surat dari Zainab itu berisi tentang ungkapan perasaan Zainab yang juga mencintai Hamid.
Ketika hendak berangkat ke Arafah untuk melaksanakan Rukun Haji yaitu wukuf, Hamid telah menderita sakit, demamnya semakin panas ketika ia akan memulai tawaf besar, sehingga dipanggilnya orang Badui upahan yang biasanya menerima upah mengangkut orang sakit mengerjakan tawaf. Sebelum Hamid diangkat ke atas tandu, tiba-tiba datang surat dari Rosna. Surat itu berisi tentang berita bahwa Zainab telah wafat. Rupanya Hamid mengetahui hal itu meskipun telah dicoba oleh Saleh untuk tidak memberitahunya.
Hamid pun memulai Tawafnya dan ketika tiba pada putaran yang terakhir dia menyuruh orang Badui yang mengangkatnya itu untuk menghentikan tandunya di antara pintu Ka’bah dengan Batu Hitam (Hajar Aswad), di tempat yang bernama Multazam, tempat segala doa makbul. Kemudian di situlah kehidupan Hamid berakhir, dia telah meninggal setelah melaksanakan semua rukun haji.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Share it